Kamis, 11 April 2013

PEREMPUAN DI BALIK AWAN


Berkemas menuju tempat yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya ( perempuan ),sesekali melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, seolah - olah segala galau berkecamuk di fikiran dan hatinya serasa akan meledak saat itu juga. di sudut temaram dia terduduk menanti kendaraan yang akan mengantarkannya menyebrangi lautan menuju tempat persinggahan untuk melanjutkan perjalanannya.

sebelum mobil beranjak meninggalkan kotanya, dia sempatkan mengucapkan terima kasih pada seorang lelaki sahabatnya yang selama ini menjadi teman diskusi ringan di sela2 kesibukannya, ternyata hanya balasan yang sedikit menggores luka dan menambah daftar sedih serta penyesalan di hatinya."seharusnya aku tidak berpamitan ke dia" ( lelaki ) sambil memandang sendu dari balik jendela mobil,dan selalu terngiang dalam benaknya, dan penyesalan lah yang membuatnya tersadar akan kenaifannya.

sandaran kursi kendaraan yang mengantarnya sampai ke bandara menjadi saksi bergulatnya seribu tanya di hati dan gumpalan - gumpalan tanya di kepala si perempuan. hingga tak terasa sudah sampai di bandara,mencoba fokus pada perjalanannya saja, menghapuskan sedih dan sesalnya. hingga terduduk di sudut ruang tunggu sesekali bergumam dalam hati " seharusnya aku tidak mengirim pesan ke dia ( laki - laki ) hanya untuk berterima kasih kalau hanya seperti ini" dengan menghela nafas panjang.

tepat 1 jam tiba waktu keberangkatannya, di dalam burung besi dia berusaha melupakan rasa sedih  dan sesal yang sedang bergelayut, dengan harapan bertemu sahabat - sahabatnya bisa sedikit menghalau rasa itu. dari balik jendela burung besi dia memandang rangkaian awan dan hembusan angin di bawah langit biru.

sesekali terlihat gugusan gunung dan hamparan daratan serta luasnya bentang lautan yang terlihat dari balik jendela burung besi yang sedang melaju  di atas awan - awan, tak sedetikpun dia lewatkan dan di abadikan ke dalam benaknya, sesekali terucap " sungguh indah maha karyamu TUHAN" terdengar lirih di sela - sela helaan nafasnya.

2  jam  perjalanannya menembus rangkaian awan - awan di angkasa dengan deru mesin burung besi yang menemani, sampai juga di tempat yang dia tahu hanya dari Peta atau berita di televisi,semua pengaman yang mengikatnya selama perjalanan di lepaskan dengan bergegas dan berharap sahabat - sahabatnya sudah terlebih dahulu tiba, " adik apa kabar??" sambil berlari memeluk sahabatnya yang bernama "ayna", sambil bersenda gurau dan membuat kegaduhan kecil di lobi bandara dua perempuan itu pun saling berpelukan.

terasa penat dalam perjalanan dan harus menunggu bus jemputan yang akan mengatarkannya bersama rombongan ke suatu kota, membuat dia dan ayna berfikir untuk tiduran dan melantai di lobi adalah ide yang paling nyaman, walau sesekali terdengar riuh rendah tawa para sahabat yang lainnya karena juga merasa jenuh menunggu.kuarng lebih 2 jam bus jemputan pun datang dengan segera dua perempuan itu berlari kecil mencari tempat duduk yang strategis.

hingga tengah malam baru bus yang mengantarkan rombongan tiba di penginapan, dan kedua perempuan itu yang secara kebetulan satu kamar menuju tempat beristirahat untuk melepaskan penat, melihat jadwal kegiatan yang masih siang hari keduanya masih terlihat enggan untuk segera beranjak dari tempat tidur.

acara demi acara di lalui dan semua kesedihan di awal perjalanan sudah terlupakan, berganti dengan keceriaan di mana dia bersenda gurau dengan sahabat - sahabat dan memulai kisah - kisah dengan sahabat - sahabat yang baru di kenalnya, 2 hari melalui hari - hari di kota orang sedikit membuatnya ceria, dan di tambah lagi dia mendapatkan sahabat yang sangat dia kagumi, sahabat dari belahan samudera.

hingga suatu saat kegiatan berpindah ke tempat yang sangat indah, "NEGRI DI ATAS AWAN" perempuan itu membaca papan nama di gedung mungil dekat panggung acara, ibu tuti yang menjadi ibu kost selama beberapa hari di desa itu selalu tersenyum ketika melihat ulah jahil kedua perempuan itu, sosok yang sederhana dan bekerja sebagai tenaga pengajar di daerah atas awan ( puncak gunung ) membuat perempuan itu selalu bertanya."ibu apa yang membuat ibu tetap bersemangat?", mengingat lokasi sekolah yang berada di lembah dan kondisi jalanan yang naik turun bukit, tidak semua perempuan mampu menjalani hari - hari seperti itu, dan ibu tuti hanya menjawab singkat "di sini terdapat kedamaian dan harus ikhlas dalam pengabdian".

hari - hari berlalu, dalam langkah kecil bersama sahabatnya menyusuri jalanan ketika malam hari terlihat gugusan bintang - bintang dalam edar galaksi bima sakti, terlihat indah dan sangat damai walau tanpa sighnal untuk berkomunikasi, tetap di jalani dengan kebahagiaan, "aku merasakan inilah kehidupan sejati tanpa kekangan, tanpa pikiran dan tanpa aturan - aturan protokoler kehidupan" ,sembari terus berjalan melalui hari - hari dengan rangkaian kegiatan.

dinginnya udara tak membuatnya menyerah, terkadang sesekali menghampiri ibu tuti yang sedang memasak di tungku perapian, sungguh kehidupan yang sangat sederhana jauh dari moderenitas  melihat semangat ibu - ibu dari beranda rumah. walau berjalan dengan menyibak kabut di pagi hari dengan dinginnya udara yang menusuk hingga ke tulang tak menghalangi ibu - ibu beraktifitas, dan itulah yang membuat perempuan itu kembali bersemangat.

menyusuri lembah sembari bersenda gurau dan sesekali beraksi mengekspresikan kadar narsis dalam diri, membuat perempuan itu mampu kembali tegar menghadapi segala tantangan kehidupan sepulangnya nanti, sang waktu terus bergulir hingga tiba di mana semua harus di kemas untuk menuju tempat kelahirannya,ketika memeluk keluarga barunya di negeri atas awan membuat air mata perempuan itu menetes, dan dalam hati dia hanya bisa berkata "ibu suatu saat doakan bisa kembali memeluk kalian di sini, separuh dari bagian jiwanya sudah terpaut di gugusan gunung, dalamnya lembah dan putihnya awan desa ini".

tersimpan keelokan perempuan - perempuan tangguh, di balik awan tersingkap seribu tabir kisah perjuangan dan tersimpan sebuah kenangan indah yang sengaja di titipkan oleh perempuan itu pada kokohnya deretan pegunungan, hanya sesekali perempuan menatap gugusan gunung dan elang - elang yang melayang, menari - narikan kepakan sayapnya di angkasa, mengiringi perjalanan pulang.

hingga tiba saatnya perempuan harus melayang pergi meninggalkan sepenggal kisah indahnya, "sesampai di pesawat dia berharap semua kenangan yang tersisa akan musnah tersapu deru mesin burung besi ini", ratap perempuan. terasa sungguh berat kakinya melangkah hingga seruan untuk segera berangkat pun membuyarkan lamunanya. namun semua kesombongannya berakhir dengan deraian air mata, ketika dia menatap dari balik jendela burung besi.

tetesan air mata itu mengiringi perjalanannya kembali membelah bentangan awan - awan di angkasa dan deru mesin burung besi yang mengantarkan dia kembali ke kampung halamannya,"mampukah aku menghampiri kota ini" pertanyaan yang selalu terbersit di hati perempuan itu.mengkamlufasekan segala kesedihannya hingga sang surya berganti rembulan dengan alunan langkah seolah kepastian dalam pergulatan kehidupan, namun semua hanya impiannya untuk bisa berusaha tegar menghadapi tantangan, perempuan itu hanya bisa berucap" indahnya tersembunyi di balik awan".

Tahun berganti dan sang waktu yang terus begulir perempuan itu kembali menapakkan kakinya di kota yang telah memberikan berbagai kenangan, dan bertemu dengan sahabat yang selama ini hanya bisa dia ketahui kabar dari benda moderen bernama Hand Phone. kedatangannya bukanlah untuk mencari kisah indahnya namun kedatangannya hanya untuk mengikatkan tali persaudaraan. sesunting senyumnya sebagai tanda sang waktu telah memberinya jawaban pasti bahwa kisah indah itu hanyalah sepenggal dari perjalanan hidupnya, dimana kini perempuan yang selalu bersembunyi di balik awan - awan itu tetap meyakini bahwa "Kisah indah itu akan datang menghampirinya"

( Surty )


0 komentar:

Posting Komentar